Lewati ke isi

Hiburan Menjaga Orisinalitas Musik di tengah Pesatnya Perkembangan AI

Berita

RRI.CO.ID, Sanggau - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini membawa perubahan besar dalam industri musik karena teknologi ini mampu membantu menciptakan melodi, menyusun aransemen, menghasilkan lirik, hingga memproduksi lagu dalam waktu singkat, sehingga membuka peluang baru bagi para musisi untuk bereksperimen dan menghasilkan karya yang inovatif. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mengenai batas kreativitas manusia, keaslian karya musik yang dihasilkan dengan bantuan AI, serta keberlangsungan nilai-nilai budaya yang menjadi bagian penting dalam menjaga identitas dan kekayaan musik di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Seorang guru seni musik sekaligus komposer musik Kabupaten Sanggau , Muhammad Julian Sujadmiko, melihat bahwa perkembangan AI dalam dunia musik merupakan sebuah inovasi teknologi yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, AI dapat menjadi alat bantu yang mempermudah proses penciptaan musik, mulai dari mencari ide awal, mengembangkan komposisi, hingga menyempurnakan aransemen, teknologi seharusnya tidak menggantikan peran manusia sebagai pencipta yang memiliki pengalaman, perasaan, dan kepekaan artistik.

“AI dapat membantu proses penciptaan musik, tetapi kreativitas dan kepekaan manusia tetap menjadi kunci utama dalam berkarya," ungkap Muhammad Julian Sujadmiko dalam Dialog RRI Sanggau Menyapa, Senin 19 Oktober 2026.


Ia menjelaskan , dalam dunia pendidikan, AI dinilai berpotensi membantu seseorang mempelajari musik dengan lebih mudah dan fleksibel, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mempelajari teori musik, mengenali pola ritme, memahami harmoni, serta memperoleh referensi mengenai teknik bermain alat musik dan proses penciptaan lagu. Bagi pelajar yang memiliki keterbatasan akses terhadap guru atau fasilitas belajar, AI dapat menjadi sarana pendukung untuk berlatih secara mandiri.

Namun, Julian memandang bahwa proses belajar musik tetap membutuhkan latihan yang konsisten, pendampingan guru, dan pengalaman musikal secara langsung. Kemampuan memainkan instrumen, memahami dinamika, melatih pendengaran, serta membangun kepekaan terhadap bunyi tidak cukup dikuasai hanya dengan mengandalkan petunjuk dari teknologi.

“AI dapat membantu belajar musik, tetapi latihan langsung dan bimbingan guru tetap penting untuk mengasah kemampuan dan kepekaan musikal," ujarnya.


Julian mengatakan, bahwa ketergantungan berlebihan pada AI dapat menghambat kemampuan dasar, kemandirian, dan kreativitas generasi muda dalam bermusik, sehingga karya yang dihasilkan berisiko seragam dan kurang mencerminkan identitas pribadi. Penggunaan AI harus dilakukan secara bijak dengan tetap mempelajari musik tradisional, bahasa daerah, dan budaya lokal agar orisinalitas serta identitas budaya tetap terjaga.

Bagi Julian, bahwa karya musik yang dibuat dengan bantuan AI tetap memiliki nilai kreatif selama manusia berperan aktif dalam menentukan ide, mengolah komposisi, dan memberikan sentuhan personal berdasarkan pengalaman, emosi, serta nilai budaya. Karena penggunaan AI harus disertai sikap kritis, penghargaan terhadap hak cipta, dan keterbukaan agar keaslian karya serta tanggung jawab kreatif tetap terjaga.

“Gunakan AI secara bijak tanpa meninggalkan kreativitas, orisinalitas, dan identitas budaya dalam bermusik," katanya.

Julian berpesan kepada para musisi muda agar tidak merasa takut terhadap perkembangan AI, tetapi juga tidak menyerahkan seluruh proses kreatif kepada teknologi tersebut. Generasi muda perlu terus belajar, berani bereksperimen, membangun ciri khas musikal, serta menjadikan pengalaman dan lingkungan sekitar sebagai sumber inspirasi dalam berkarya.


https://rri.co.id/sanggau/hiburan/2823038/menjaga-orisinalitas-musik-di-tengah-pesatnya-perkembangan-ai