RRI.CO.ID, Sanggau - Penggiat musik Sanggau, Ferry Budaya menyoroti penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam proses penciptaan musik. Ia menilai, pengembangan karya tetap perlu bertumpu pada gagasan dan kreativitas manusia agar musisi tidak sepenuhnya bergantung pada hasil buatan teknologi.
Ferry mengatakan, AI dapat dimanfaatkan oleh musisi pemula untuk mencari gambaran awal dalam menggarap musik. Namun, penggunaannya perlu dibatasi agar proses pengembangan karya tidak sekadar menyalin hasil yang dihasilkan teknologi tersebut.
“Kalau menurut saya AI ini baik juga untuk referensi atau kawan-kawan pemula, tapi tidak mengukur AI-nya full seratus persen, tapi bisa sepuluh persen untuk referensi saja,” ujar Ferry dalam Dialog Sanggau Menyapa di RRI Sanggau, Senin 19 Oktober 2026.
Menurutnya, penggunaan AI secara berlebihan berisiko membuat musisi kehilangan ruang untuk mengembangkan ide dan karakter musik sendiri. Ia menyarankan teknologi tersebut hanya menjadi pendukung, sementara penggarapan utama tetap dilakukan oleh musisi.
“Jangan keenakan AI dari awal sampai habis, menitnya bagus jadi dijiplak semua jangan juga, tapi untuk dasar awal penggarap pemula mungkin boleh untuk mencoba referensi dari AI,” katanya.
Ferry juga menyoroti keterbatasan referensi AI dalam mengolah musik etnik yang memiliki karakter lokal. Menurutnya, musik bernuansa Melayu dan Dayak di Kalimantan Barat membutuhkan penggalian tradisi agar hasilnya sesuai dengan identitas budaya setempat.
“Jadi saran saya ke kawan-kawan cobalah berpikir keras untuk menggali tradisi untuk dikembangkan. Kalau AI ini tambahan kecil-kecil saja sebenarnya,” tutur Ferry.
Dikatakan, musisi daerah perlu terus mengeksplorasi kekayaan tradisi musik lokal daripada hanya mengikuti pola yang dihasilkan AI. Pendekatan tersebut dinilai penting agar perkembangan teknologi tidak membuat karakter musik daerah semakin terabaikan.
